![]() |
| Sumber: liputan6.com |
Dunia Politik - Mukhammad Misbakhun, seorang politisi Partai
Golkar menilai bahwa dunia politik
adalah keras. Hal tersebut ia sampaikan dalam sebuah acara di sekolah politik
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Misbakhun mengatakan seperti itu lantaran saat
dituduh Misbakhun
korupsi
Di hadapan lebih dari 100 kader ICMI, Misbakhun menceritakan pengalamannya
dahulu saat menjadi legislator PKS. Namanya melambung karena membongkar skandal
bailout Bank Century.
Namun rezim saat itu sangat tidak menyukainya sehingga ia
dikriminalisasi. Dituduhnya Misbakhun terjerat kasus dan dipenjara sebelum
akhirnya dibebaskan karena putusan Mahkamah Agung menilai dia tak bersalah.
Kasus Misbakhun yaitu pemalsuan letter of credit
(L/C) sehingga hakim menyatakan bahwa Misbakhun korupsi sebesar
22,5 juta USD di Bank Century benar adanya. Ketukan palunya Hakim menyatakan Misbakhun
di vonis dipenjara selama 2 tahun.
"Bagi saya, episode hidup saya terbaik adalah saat saya
dipenjara. Saat di sana, dalam 3 hari, saya bisa khatam Al-Quran. Saat di
penjara, saya khatamkan Al-Quran lebih banyak dibanding waktu lainnya sepanjang
hidup saya," kata Misbakhun.
Setelah bebas, Misbakhun mengaku bahwa dia tak serta merta merasa
ada masalah personal dengan SBY, yang dianggapnya memerintahkan kriminalisasi
atas dirinya. Misbakhun
mengaku masih menghormati SBY sebagai seorang tokoh dan presiden.
Misbakhun menambahkan, sakit hati tak berhenti
setelah dia keluar penjara. Sebab, akibat kasus Misbakhun itu,
PKS memutuskan tak merehabilitasi nama dan kedudukannya di DPR. Bahkan akibat
kesepakatan politik PKS di koalisi pemerintahan saat itu, dirinya tak mungkin
berpolitik lagi dan maju menjadi calon anggota DPR.
Akhirnya, Misbakhun keluar dari PKS dan memilih masuk ke
Partai Golkar. Misbakhun
lalu kembali ke dapilnya, dan merajut hubungan dengan warga yang dulu
memilihnya saat masih di PKS.
Misbakhun menjadi anggota DPR periode
2014-2019 dari Fraksi Golkar. Di Golkar, Misbakhun memiliki banyak pengalaman dan dia
menyimpulkan bahwa pertarungan terkeras yang harus dihadapi politisi itu adalah
justru di internal partainya sendiri.
"Kalau di medan perang, ada peribahasa, kill or to be
killed. Kalau di politik Indonesia, ada istilah 'nyawa politisi melebihi
kucing'. Dia bisa hidup, mati, hidup, mati, hidup lagi," tambahnya.
Yang jelas, kata Misbakhun, seseorang yang hendak berkarir di
politik harus bisa menunjukkan kapabilitas dan semangatnya, sehingga akan
dipakai oleh rezim manapun yang berkuasa di partai.
Dia juga mengingatkan bahwa karir di politik akan langgeng
kalau posisi di daerah pemilihan diperkuat dengan rajin turun ke masyarakat.
Dengan kuat di dapil, kata dia, parpol takkan mau kehilangan sang politisi karena
otomatis akan kehilangan kursi juga.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/10959/original/misbakhun130308b.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar